WASPADAI JEBAKAN GLUCOSE SPIKE SAAT BERBUKA PUASA


Oleh: Diaz Hamzah

Menjelang azan Magrib, meja-meja makan di banyak rumah dipenuhi gelas teh manis, sirup berwarna cerah, kolak hangat, dan aneka gorengan. Setelah hampir 13 jam menahan lapar dan haus, godaan itu terasa sah untuk “dibalas tuntas”. Namun, di balik momen yang tampak wajar itu, tubuh sedang menghadapi sebuah kejutan metabolik yang sering luput disadari: glucose spike.

Fenomena ini diam-diam menjadi sisi lain dari tradisi berbuka yang manis. Puasa yang sejatinya menyehatkan bisa berubah menjadi jebakan, bukan karena ibadahnya, melainkan karena cara kita memperlakukan tubuh saat berbuka.


Lonjakan yang Tak Terlihat

Glucose spike sendiri adalah lonjakan glukosa (gula darah), yang merupakan kondisi ketika kadar gula dalam darah naik dengan cepat dan tajam, umumnya terjadi tak lama setelah mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula maupun karbohidrat. Lonjakan ini sering memicu pola seperti “roller coaster” gula darah: setelah naik tinggi, kadar gula dapat turun kembali secara drastis dan menimbulkan sugar crash.

Selama berpuasa, tubuh berada dalam kondisi relatif stabil. Kadar insulin rendah, lambung kosong, dan sistem metabolisme beradaptasi untuk menggunakan cadangan energi secara efisien. Ketika azan Magrib tiba dan yang pertama masuk adalah minuman bergula pekat atau makanan tinggi karbohidrat sederhana, tubuh seperti “terkejut”.

Gula darah melonjak drastis. Untuk mengimbanginya, tubuh harus memproduksi insulin dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Jika pola ini terjadi berulang setiap hari selama Ramadan, keseimbangan metabolisme dapat terganggu.


Pola Balas Dendam yang Berulang

Banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pola yang sama setiap kali berbuka: makan sebagai pelampiasan. Minuman manis dijadikan pembuka utama, disusul karbohidrat sederhana secara berlebihan, sementara asupan serat dan protein minim. Semua itu sering dikonsumsi dengan cepat karena rasa lapar yang menumpuk.

Akibatnya, puasa yang seharusnya melatih kestabilan tubuh justru berubah menjadi “latihan naik-turun gula darah”. Tubuh dipaksa beradaptasi dengan fluktuasi tajam setiap hari: dari stabil saat puasa, lalu melonjak tinggi setelah berbuka.


Dampak yang Sering Disalahartikan

Lonjakan gula darah yang berulang membawa dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, banyak orang merasakan kantuk berat dan lemas setelah berbuka. Ironisnya, momen yang diharapkan memulihkan energi justru diikuti rasa lesu.

Dalam jangka panjang, glucose spike yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, penumpukan lemak perut, dan peradangan dalam tubuh. Risiko penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi pun ikut meningkat. Energi menjadi tidak stabil, naik-turun mengikuti pola makan yang tidak teratur.

Rasa lemas setelah berbuka sering disalahkan pada puasanya. Padahal, yang bermasalah bukan ibadahnya, melainkan cara berbuka yang kurang bijak.


Menata Ulang Cara Berbuka

Mengendalikan glucose spike bukan berarti menghilangkan kenikmatan berbuka, tetapi menata urutannya. Langkah sederhana bisa membuat perbedaan besar.

Berbuka sebaiknya diawali dengan air putih untuk menghidrasi tubuh. Kurma cukup satu atau dua butir sebagai sumber gula alami. Setelah itu, tambahkan makanan berkuah seperti sup atau sayur, diikuti protein, baru kemudian karbohidrat dalam porsi secukupnya.

Mengurangi minuman bergula, makan secara bertahap, dan mengunyah perlahan membantu tubuh memproses makanan tanpa lonjakan tajam. Prinsipnya sederhana: biarkan gula darah naik perlahan, bukan melonjak tiba-tiba.


Puasa sebagai Latihan Kesadaran

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan mengatur respons tubuh. Ketika berbuka dilakukan dengan sadar dan terukur, gula darah cenderung lebih stabil, energi bertahan lebih lama, dan berat badan lebih mudah dikendalikan. Tubuh terasa lebih bugar, sehingga ibadah malam dapat dijalani dengan lebih fokus.

Glucose spike bukanlah konsekuensi dari puasa itu sendiri. Ia muncul dari kebiasaan berbuka yang kurang tepat. Dengan sedikit penyesuaian, puasa tetap dapat menjadi sarana menjaga kesehatan ketika beribadah pada Allah, membuat tubuh lebih sehat, bugar, dan aman.

Pada akhirnya, momen berbuka bukan hanya tentang memuaskan rasa lapar, tetapi tentang merawat tubuh yang telah bekerja sepanjang hari. Kesadaran sederhana di meja makan bisa menentukan apakah puasa menjadi sumber kesehatan, atau justru jebakan yang tidak kita sadari.

Posting Komentar

0 Komentar