KETIKA MAKANAN MENJADI KEYAKINAN


Oleh: Diaz Hamzah

Potongan video itu muncul tiba-tiba di linimasa. Pendek, padat, dan penuh keyakinan.

Hewan adalah teman, bukan makanan.
Kalau kamu makan daging, berarti kamu membayar penjagal.

Wajahnya serius. Kalimatnya absolut. Tak ada gambaran keraguan di wajah mereka.

Algoritma menyukai hal semacam ini. Bukan karena benar atau salah, melainkan karena ia menyentuh sesuatu yang sangat personal: makanan. Dan ketika makanan disentuh, identitas ikut terseret. Maka respons publik pun bisa ditebak. Bukan diskusi gizi, bukan debat etika, melainkan tawa, ejekan, dan hujatan. Veganisme bukan diperdebatkan, ia ditertawakan.

Padahal, kampanye vegan bukan barang baru. Ia jauh lebih tua dari Instagram, lebih tua dari influencer, bahkan lebih tua dari ilmu gizi modern. Yang berubah hanyalah medium. Dulu ia bergerak pelan, bertatap muka, penuh jeda. Kini ia datang cepat, agresif, tanpa konteks, tanpa dialog.

Lalu muncul pertanyaan yang jarang dibahas dengan tenang: apa itu veganisme, dan apakah manusia benar-benar diciptakan untuk menjadi vegan?

Jejak pemikiran vegetarian dapat ditelusuri ribuan tahun lalu. Di India kuno, konsep ahimsa (prinsip non-kekerasan terhadap semua makhluk hidup) menjadi fondasi moral Hindu, Jainisme, dan Buddhisme. Membunuh binatang dipandang menciptakan karma buruk. Menghindari daging dianggap jalan menjaga kemurnian jiwa.

Di Yunani kuno, Pythagoras dan para pengikutnya percaya jiwa manusia dan binatang saling terhubung. Makan daging berarti memakan sesuatu yang mungkin pernah hidup sebagai manusia. Namun praktik ini masih mengizinkan susu dan telur. Ini vegetarianisme awal, belum veganisme.

Selama berabad-abad, praktik ini tetap minoritas. Bukan karena manusia kejam, tetapi karena realitas biologis dan ekonomi. Dalam masyarakat agraris dan praindustri, daging, susu, dan telur adalah sumber energi yang terlalu berharga untuk ditinggalkan. Vegetarianisme bertahan sebagai praktik spiritual terbatas, bukan gaya hidup massal.

Veganisme modern baru benar-benar lahir pada 1944 di Inggris, dengan berdirinya The Vegan Society. Di sini terjadi pergeseran besar. Veganisme tak lagi sekadar menghindari pembunuhan binatang, tetapi menolak segala bentuk eksploitasi: daging, susu, telur, madu, gelatin, bahkan kulit untuk dompet.

Vegan bukan sekadar soal makanan. Ia adalah gaya hidup total, posisi etis yang ketat, konsisten, dan ekstrem di ujung spektrum vegetarianisme. Dan yang sering luput disadari: veganisme lahir dari dunia yang berkelimpahan. Ia hanya mungkin berkembang ketika ilmu gizi, industri pangan, suplemen, dan rantai pasok global tersedia.

Tanpa teknologi, veganisme skala besar nyaris mustahil.

Argumen biologis pun sering diseret ke medan ini. “Manusia tidak punya taring.” “Usus manusia panjang seperti herbivora.” Klaim-klaim ini terdengar ilmiah, tapi sering disederhanakan.

Faktanya, manusia memiliki gigi seri untuk memotong, taring kecil untuk merobek, dan geraham lebar untuk menggiling. Ini ciri omnivora. Usus manusia memang lebih panjang dari karnivora, tapi jauh lebih pendek dan sederhana dibanding herbivora sejati. Kita tak punya rumen untuk mencerna selulosa mentah. Tubuh manusia dirancang untuk fleksibel, adaptif, dan oportunistik.

Sejarah menunjukkan kita bertahan bukan dengan satu sumber makanan, tapi dengan apa pun yang tersedia.

Karena itu, ketika seseorang berkata “manusia seharusnya vegan”, yang terasa bagi banyak orang bukan ajakan, melainkan penghapusan sejarah biologis dan budaya. Makanan bukan sekadar nutrisi. Ia adalah memori, tradisi, dan identitas. Maka wajar jika reaksinya sering kali emosional.

Ironinya, bahkan dalam pola makan vegan, kematian tetap terjadi. Tumbuhan memang tidak merasakan sakit seperti hewan karena tak memiliki sistem saraf dan otak. Namun tumbuhan tetap hidup dan mati dalam jumlah masif setiap hari. Di bumi ini, kehidupan selalu dibayar dengan kehidupan lain.

Persoalan makin kompleks ketika masuk ke ranah nutrisi. Beberapa zat penting (seperti vitamin B12, DHA, EPA, zat besi heme, zink, iodin, taurin, dan kreatin) sangat sulit diperoleh secara alami dari pola makan vegan tanpa bantuan suplemen. Veganisme modern menjawabnya dengan teknologi (Pil).

Ini tidak membuat veganisme salah. Tapi ia menegaskan satu hal: veganisme bukan kondisi default biologis manusia.

Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah pola hidup ini cocok diterapkan secara luas di Indonesia, negara yang masih bergulat dengan stunting, kemiskinan, dan akses pangan?

Dalam konteks anak-anak dan masyarakat rentan, veganisme ketat tanpa pengetahuan, akses, dan suplemen justru berisiko memperparah defisiensi gizi. Tubuh tidak membaca niat baik. Tubuh hanya merespons apa yang benar-benar diserap.

Di titik inilah perdebatan veganisme seharusnya berhenti menjadi vonis moral, dan mulai menjadi percakapan kontekstual.

Lalu, Bagaimana Islam Memandangnya?

Islam memandang makanan bukan semata soal etika personal, tetapi amanah kehidupan.

Al-Qur’an dengan jelas menghalalkan hewan tertentu untuk dikonsumsi:

اُحِلَّتۡ لَـكُمۡ بَهِيۡمَةُ الۡاَنۡعَامِ اِلَّا مَا يُتۡلٰى عَلَيۡكُمۡ غَيۡرَ مُحِلِّى الصَّيۡدِ وَاَنۡـتُمۡ حُرُمٌ​ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيۡدُ‏
Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Ma’idah: 1)

Namun, Islam juga menegaskan larangan keras terhadap kezaliman kepada hewan. Rasulullah ﷺ melarang menyiksa binatang, memerintahkan penyembelihan yang baik, cepat, dan penuh ihsan. Bahkan seorang wanita diazab karena menyiksa kucing, dan seorang pendosa diampuni karena memberi minum anjing.

Artinya, dalam Islam:
  • Memakan hewan halal itu boleh
  • Menyiksa hewan itu haram

Islam tidak memerintahkan manusia menjadi vegan, tetapi juga tidak membenarkan eksploitasi brutal tanpa etika. Islam mengambil jalan tawazun (keseimbangan). Manusia diberi hak memanfaatkan makhluk lain untuk hidup, namun dibatasi oleh adab, rahmah, dan tanggung jawab.

Menjadikan veganisme sebagai pilihan pribadi (karena alasan kesehatan atau empati) tidak bertentangan dengan Islam selama tidak:
  • Mengharamkan apa yang Allah halalkan
  • Mengklaim diri lebih suci secara moral
  • Memaksakan keyakinan kepada orang lain

Islam menolak absolutisme baru yang menggantikan syariat dengan standar moral buatan manusia.

وَلَا تَقُوۡلُوۡا لِمَا تَصِفُ اَلۡسِنَـتُكُمُ الۡكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّـتَفۡتَرُوۡا عَلَى اللّٰهِ الۡكَذِبَ​ؕ اِنَّ الَّذِيۡنَ يَفۡتَرُوۡنَ عَلَى اللّٰهِ الۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُوۡنَؕ‏
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)

Pada akhirnya, makanan dalam Islam bukan medan perang ideologi, melainkan sarana menjaga kehidupan agar tetap kuat untuk beribadah. Yang haram itu bukan dagingnya, tetapi kezaliman, kesombongan, dan pemaksaan.


Penutup

Biarlah vegan menjalani pilihannya dengan tenang.
Biarlah omnivora makan tanpa dihina.
Dan biarlah Islam tetap berdiri di tengah: adil, berimbang, dan membumi.

Karena hidayah tidak lahir dari teriakan,
dan kebaikan tidak tumbuh dari celaan.


Referensi:

Posting Komentar

0 Komentar