MEMAHAMI ATURAN SEBAGAI PENJAGA, BUKAN PENGHALANG


Oleh: Diaz Hamzah

Di sebuah ruang diskusi hangat dalam acara Escape episode 5 yang tayang sore menjelang malam, pertanyaan itu meluncur begitu saja, ringan namun menggelitik diantara Ustadz Felix Siauw, Koiyo Cabe dan Verren.

Benarkah Islam adalah agama yang aturannya paling banyak dan paling ketat?

Beberapa orang tersenyum. Sebagian mengangguk pelan, seolah pertanyaan itu sudah lama bersemayam di kepala mereka. Di luar ruangan, dunia bergerak cepat. Kebebasan dielu-elukan. Pilihan hidup semakin beragam. Namun di dalam ruangan itu, percakapan justru berputar pada satu kata yang sering dianggap kuno, yaitu aturan.

Padahal jika direnungkan, hidup tanpa aturan hampir mustahil. Jalan raya punya rambu. Sekolah punya tata tertib. Bahkan permainan kartu di warung kopi pun punya kesepakatan yang tak boleh dilanggar. Anehnya, ketika aturan datang dari agama, ia sering diskreditkan.


Membuka Lembaran Sejarah

Diskusi sore itu tidak berhenti pada asumsi. Ia berjalan mundur, menelusuri sejarah agama-agama Abrahamik.

Tradisi yang lebih dahulu muncul adalah Yudaisme, berkembang setelah pengasingan bangsa Yahudi ke Babilonia sekitar lima abad sebelum Masehi. Komunitas ini memegang kitab suci Tanakh yang di dalamnya memuat Taurat dan kitab-kitab lainnya.

Dalam Yudaisme, aturan bukan sekadar pedoman umum. Ia menyentuh detail keseharian. Makanan harus kosher. Pada hari Sabat, menyalakan api pun dilarang. Hukum-hukum sosial diatur dengan sangat rinci. Aturan menjadi identitas, menjadi pagar yang menjaga komunitas tetap utuh di tengah pengasingan.

Beberapa abad kemudian lahirlah agama Kristen. Aturannya dalam banyak hal lebih longgar dibanding tradisi Yahudi.

Lalu pada tahun 610 Masehi, wahyu pertama turun kepada Muhammad di Gua Hira. Dari peristiwa itu, lahirlah Islam dengan kitab suci Al-Qur'an yang diyakini sebagai wahyu langsung dari Allah.

Islam tidak menyalin kitab sebelumnya, tetapi membawa risalah baru yang diyakini menyempurnakan ajaran terdahulu. Jika dilihat dari perbandingan sejarah, Islam justru berada di tengah. Tidak sedetail hukum Yudaisme, tetapi juga tidak membebaskan tanpa batas.


Antara Beban dan Bimbingan

Namun mengapa sebagian orang merasa Islam terlalu mengatur?

Verren mengangkat contoh poligami yang kemudian dijawab oleh Ustadz Felix. Di masa sebelum Islam, jumlah istri bisa tak terbatas. Islam datang dengan pembatasan maksimal empat istri, dengan syarat keadilan yang berat. Bagi Nabi Muhammad ﷺ sendiri ada kekhususan yang tidak berlaku bagi umatnya. Artinya, aturan itu bukan ajakan untuk memperbanyak, melainkan rem agar manusia tidak berlebihan.

Contoh lain muncul tentang larangan perempuan haid untuk salat. Di masa lalu, ketika fasilitas kebersihan belum memadai, aturan itu justru menjadi bentuk keringanan. Islam juga memberi rukhsah bagi musafir untuk menjamak salat. Bahkan dalam kondisi darurat, banyak ketentuan yang dilonggarkan.

Perlahan, suasana diskusi berubah. Yang awalnya terasa seperti daftar larangan, mulai terlihat sebagai sistem yang memberi ruang kemudahan.


Fatwa dan Zaman yang Terus Bergerak

Lalu bagaimana dengan persoalan modern yang tak pernah dibahas pada abad ketujuh?

Di sinilah fatwa berperan. Fatwa adalah jawaban hukum yang diberikan mufti terhadap persoalan baru. Ia bukan wahyu. Ia hasil ijtihad manusia yang bisa saja berbeda antara satu negeri dan negeri lain.

Ketika muncul teknologi fertilisasi in vitro (bayi tabung), para ulama membahasnya. Hasilnya, prosedur itu dibolehkan selama berada dalam ikatan pernikahan yang sah. Ketika muncul daging hasil kultur jaringan, prinsip halal dan haram dari sumber asalnya menjadi pijakan.

Bahkan dalam isu yang lebih sensitif seperti masturbasi, pendapat ulama tidak tunggal. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan dengan pengecualian tertentu. Perbedaan itu lahir dari metode berpikir mazhab yang berbeda.

Imam Malik mengandalkan tradisi penduduk Madinah sebagai rujukan kuat. Imam Hanafi lebih menekankan rasionalitas dan analogi hukum. Perbedaan geografis dan sosial membentuk cara pandang yang tidak selalu sama.

Di titik itu, aturan Islam tampak bukan sebagai bangunan kaku, melainkan rumah dengan banyak pintu, selama fondasinya tetap Al-Qur’an.


Muhasabah di Tengah Kebebasan

Menjelang akhir diskusi, percakapan mengerucut pada satu refleksi. Barangkali yang membuat aturan terasa berat bukanlah aturannya, melainkan keinginan kita untuk hidup tanpa batas.

Islam secara harfiah berarti penyerahan diri. Menyerah di sini bukan kalah, melainkan percaya bahwa Sang Pencipta lebih mengetahui apa yang baik bagi hamba-Nya.

Al-Qur’an tetap sama sejak dibukukan pada masa Khalifah Utsman. Yang berubah adalah zaman dan cara manusia memahaminya. Maka tugas ulama adalah menjembatani teks dengan konteks, sementara tugas kita adalah menjaga hati agar tidak tergesa-gesa menilai.

Sore itu, tidak ada kesimpulan bombastis. Hanya satu kesadaran pelan yang tumbuh.

Bahwa aturan, jika dipahami sebagai bentuk kasih sayang, tidak lagi terasa seperti rantai. Ia justru seperti pagar di tepi jurang. Tidak membatasi pemandangan, tetapi mencegah kita terjatuh.

Dan mungkin, sebelum bertanya mengapa Islam begitu banyak mengatur, kita perlu bertanya lebih dalam. Sudahkah kita benar-benar memahami untuk apa aturan itu ada dalam hidup kita.

Posting Komentar

0 Komentar