
Oleh: Diaz Hamzah
Di layar ponsel yang kita genggam setiap hari, ribuan informasi melintas tanpa jeda. Sebagian membuat kita tertawa, sebagian memicu amarah, dan sebagian lagi membentuk cara kita melihat dunia tanpa kita sadari. Dalam beberapa tahun ke depan, ancaman terbesar yang dihadapi masyarakat global bukan lagi sekadar krisis ekonomi atau konflik bersenjata, melainkan misinformasi yang menyusup pelan namun memengaruhi cara berpikir kolektif.
Fenomena ini tidak ada secara kebetulan karena ia tumbuh subur di tengah budaya digital yang memuja kecepatan dan sensasi. Informasi yang belum tentu benar dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Potongan video tanpa konteks bisa mengubah makna, sementara opini yang dibungkus keyakinan terdengar seperti kebenaran mutlak. Di sinilah muhasabah perlu dimulai, bukan hanya bagi mereka yang memiliki jutaan pengikut, tetapi juga bagi diri kita sendiri sebagai pengguna media.
Dalam acara Escape episode 4 yang melibatkan Ustadz Felix Siauw, dibahas bagaimana misinformasi dapat menjadi alat manipulasi pikiran. Kontrol paling berbahaya justru terjadi ketika seseorang tidak merasa sedang dikendalikan. Algoritma media sosial menyajikan konten sesuai preferensi kita sehingga tanpa sadar kita hidup dalam ruang gema yang menguatkan keyakinan sendiri dan menutup pintu kritik.
Peran influencer menjadi sorotan karena mereka memiliki daya pengaruh besar. Bahayanya bukan hanya pada konten yang terang-terangan menipu, melainkan juga pada budaya instan yang tampak ringan seperti giveaway berlebihan. Ketika masyarakat terus-menerus dibiasakan menerima tanpa usaha, kemandirian berpikir perlahan terkikis. Mentalitas bergantung semakin tumbuh, sementara daya kritis melemah. Padahal umat yang kuat adalah umat yang mampu berdiri di atas keyakinan dan usahanya sendiri.
Tanggung jawab ini semakin berat ketika menyadari bahwa setiap konten akan ditafsirkan berbeda oleh audiens yang beragam. Niat baik tidak selalu menjamin dampak baik, namun niat buruk jelas memperbesar dosa dan kerusakan. Dalam Islam, pengaruh seseorang bisa menjadi ladang pahala jariah apabila menginspirasi kebaikan, tetapi bisa pula menjadi sebab dosa yang terus mengalir jika mendorong keburukan. Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Kasus perdebatan seputar penggunaan suplemen dan steroid yang dialami Steven Wongso memperlihatkan betapa mudahnya publik terjebak pada potongan informasi. Penjelasan yang lengkap sering dipangkas menjadi klip singkat yang provokatif. Akibatnya opini terbentuk bukan dari pemahaman utuh, melainkan dari serpihan yang dipilih sesuai selera penonton. Di sinilah etika komunikasi diuji karena menyampaikan informasi membutuhkan kehati-hatian, sementara menerima informasi menuntut tabayun dan kesabaran.
Masalah misinformasi tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyalahkan satu pihak. Edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat mampu memilah mana fakta, mana opini dan yang mana adalah hoax. Dalam tradisi Islam, membaca dan memahami surat Al Kahfi dianjurkan sebagai penguat iman agar tidak mudah terpedaya oleh tipu daya besar di akhir zaman. Pesan ini relevan karena inti perlindungan bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada keteguhan akal dan iman.
Muhasabah juga harus menyentuh ranah niat. Setiap konten yang dibuat atau dibagikan membawa konsekuensi moral. Jika sebuah unggahan memancing kebencian atau memicu tindakan buruk, maka tanggung jawab tidak berhenti pada pelaku langsung, melainkan merambat pada mereka yang menyebarkannya tanpa pikir panjang. Sebaliknya, konten yang mengajak pada ilmu dan akhlak mulia dapat menjadi amal yang terus berbuah meski pembuatnya telah tiada.
Hubungan antara moral dan agama pun menjadi penting. Moralitas dapat berdiri sendiri dalam sebagian kasus, namun agama memberi arah dan tujuan yang lebih kokoh. Seseorang mungkin terlihat religius tetapi abai pada etika bermedia, sementara yang lain tampak santun tetapi tidak memiliki landasan nilai yang kuat. Idealnya keduanya berjalan seiring sehingga setiap tindakan di ruang digital tetap berada dalam koridor kebenaran dan kemaslahatan.
Bagi para influencer, amanah ini semakin jelas. Pengikut bukan sekadar angka statistik, melainkan manusia dengan pikiran dan hati yang bisa terpengaruh. Setiap kata dapat menguatkan atau merusak, setiap candaan bisa menormalisasi hal yang tidak pantas, dan setiap promosi dapat membentuk gaya hidup audiens. Oleh karena itu refleksi perlu dilakukan sebelum menekan tombol unggah, karena jejak digital tidak mudah dihapus dan dampaknya bisa melampaui perkiraan.
Namun muhasabah tidak berhenti pada mereka yang memiliki panggung besar. Kita semua adalah penyampai informasi dalam skala masing-masing. Setiap kali membagikan tautan atau komentar, kita ikut membentuk opini publik. Jika tidak berhati-hati, kita bisa menjadi mata rantai misinformasi yang merugikan banyak orang.
Akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya menghadapi banjir informasi, melainkan menjaga hati dan akal tetap jernih di tengah arusnya. Edukasi, tabayun, dan kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah menjadi benteng utama. Dunia digital boleh terus berkembang, tetapi nilai kejujuran dan kehati-hatian tetap harus dijaga. Dari sanalah lahir masyarakat yang tidak mudah dikendalikan oleh narasi sesaat, melainkan berdiri teguh di atas ilmu, iman, dan integritas.
0 Komentar