
Oleh: Diaz Hamzah
Suatu hari, seorang anak kecil bertanya, “Abi, kenapa kita harus salat?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi di sanalah masa depan iman seorang anak dipertaruhkan.
Saya terdiam.
Apakah selama ini saya mengajarkan gerakan, atau keyakinan?
Dalam sebuah perbincangan di podcast Sabrina Anggraini bersama Ustadz Felix Siauw, ada kisah yang membuat dada terasa sesak. Tahun 2023, belasan anak penghafal Al-Qur’an (bahkan ada yang 30 juz) memilih keluar dari Islam. Bukan karena mereka bodoh. Bukan karena kurang hafalan. Tapi karena trauma.
Mereka dipaksa tanpa diberi ruang untuk bertanya.
Mereka diminta taat tanpa pernah diajak memahami.
Di titik ini, saya mulai bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya sedang menanam tauhid, atau sedang menanam ketakutan?
Tahapan yang Sering Kita Lompati
Dalam pendidikan Islam, ada tahapan yang tidak boleh dilompati:
- Kognitif — anak tahu dulu.
- Afektif — anak mau dulu.
- Motorik — anak melakukan.
- Behavioral — menjadi karakter.
Tapi yang sering terjadi, kita langsung ke tahap ketiga.
“Salat!”
“Ngaji!”
“Puasa!”
Padahal hati belum paham. Jiwa belum terikat.
Rasulullah ﷺ sendiri tidak langsung membebani sahabat dengan hukum-hukum fisik. Tauhid ditanamkan lebih dulu. Pertanyaan why dirawat. Keyakinan dibangun sebelum kewajiban ditegakkan.
Dan saya pun bertanya lagi:
Sudahkah anak saya mencintai Allah? Atau ia hanya takut dimarahi saya?
Tentang Ayah yang Hadir, dan Ayah yang Hanya Mencari Nafkah
Ada satu kalimat yang menghantam kesadaran saya:
Masalah besar bangsa ini adalah “fatherless nation”.
Banyak ayah hadir secara fisik, tapi absen secara akal dan ruh.
Dalam Islam, “akil baligh” terdiri dari dua kata:
- Baligh — kedewasaan biologis.
- Akil — kedewasaan akal.
Dan akal adalah tanggung jawab ayah.
Selama ini mungkin saya berpikir, tugas saya selesai ketika kebutuhan rumah terpenuhi. Padahal justru pekerjaan utama dimulai saat saya membuka pintu rumah.
Apakah saya pernah duduk berdua dengan anak tanpa distraksi?
Apakah saya pernah benar-benar mendengar isi kepalanya?
Apakah saya tahu ketakutannya? Pertanyaannya? Keraguannya?
Atau saya hanya tahu nilai rapornya?
Transfer Ilmu atau Transfer Karakter?
Kita sering bangga jika anak pintar.
Tapi apakah ia berkarakter?
Transfer ilmu bisa dilakukan guru.
Transfer karakter hanya bisa dilakukan orang tua.
Anak belajar bukan dari apa yang kita ucapkan, tapi dari apa yang mereka lihat dari tingkah laku kita.
Saat kita berkata “pendidikan lebih penting daripada harta”, lalu kita benar-benar memilih pendidikan ketika diuji, di situlah karakter ditanam.
Saat kita berkata “uang hanya alat”, lalu kita berani melepas sesuatu yang menghasilkan uang lalu lebih memilih taat pada Allah, di situlah tauhid hidup.
Anak tidak butuh orang tua yang sempurna.
Ia butuh orang tua yang konsisten.
Muhasabah yang Sunyi
Barangkali masalahnya bukan pada anak-anak zaman sekarang.
Barangkali masalahnya pada kita yang terlalu cepat menuntut hasil, tapi lambat membangun akar.
Kita ingin anak salat tepat waktu.
Tapi pernahkah kita membuat ia jatuh cinta pada Allah?
Kita ingin anak mencintai Al-Qur’an.
Tapi pernahkah rumah kita hangat dengan kisah-kisah para nabi sebelum tidur?
Kita ingin anak tidak jauh dari agama.
Tapi apakah agama di rumah kita terasa nyaman, atau penuh ancaman?
Mendidik tauhid bukan tentang memperbanyak aturan.
Ia tentang memperkenalkan Allah sebagai tempat pulang.
Dan mungkin, sebelum kita bertanya bagaimana cara mengajarkan tauhid kepada anak…
kita perlu bertanya lebih dulu:
Apakah tauhid itu sudah hidup di dalam diri kita?
0 Komentar