
Oleh: Diaz Hamzah
Kalau hidup hanya diberi satu nasihat, nasihat apa yang paling layak digenggam sampai akhir? Pertanyaan semacam itu pernah diajukan seorang sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Ia tidak meminta daftar panjang amalan, tidak pula tuntunan ibadah yang rumit. Ia hanya ingin satu kalimat yang jika ia pegang, ia merasa tidak perlu lagi mencari nasihat lain. Jawaban Nabi ﷺ singkat, tetapi menghunjam ke inti kehidupan:
عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو –وَ قِيْلَ أَبِي عَمْرَةَ- سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ قُلْ لِيْ فِيْ الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. رواه مسلم
Dari Abu ‘Amr (ada yang mengatakan Abu ‘Amrah) Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: Aku berkata: “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku satu perkataan dalam Islam, yang aku tidak akan bertanya lagi kepada kepada seorangpun selain engkau.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah”, kemudian istiqamahlah. (HR. Muslim)
Iman ternyata baru pintu awal. Ia adalah pengakuan, keyakinan, dan pengikat diri kepada Allah. Tetapi istiqamah adalah perjalanan panjang setelah pintu itu dibuka. Banyak orang sanggup memulai, sedikit yang mampu bertahan. Karena iman memberi kunci keselamatan, tetapi istiqamahlah yang menentukan apakah kunci itu benar-benar digunakan. Tanpa istiqamah, iman bisa berhenti sebagai klaim, kehilangan daya ubah dalam kehidupan. Karena itulah para ulama berpesan:
الاستقامة خير من الف كرامة
“Istiqamah lebih baik daripada seribu karamah.” Artinya, amal kecil yang terus dijaga akan mengalahkan amal besar yang hanya sekali dilakukan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi seberapa hebat amal kita, melainkan bagaimana agar kita mampu konsisten. Istiqamah tidak lahir begitu saja. Ia berdiri di atas fondasi yang kokoh, dan fondasi yang pertama adalah akidah. Akidah adalah kekuatan paling dalam, kekuatan yang tak terlihat, tetapi menentukan arah seluruh hidup. Ia adalah kemampuan menjawab satu pertanyaan kunci: kenapa. Kenapa kita salat, kenapa kita puasa, kenapa kita menolak yang haram, kenapa kita memilih taat meski berat. Selama hidup hanya dipenuhi pertanyaan apa dan bagaimana, iman akan mudah rapuh. Tetapi ketika seseorang mampu menjawab kenapa dengan keyakinan yang jujur, di situlah istiqamah mulai tumbuh.
Itulah sebabnya orang-orang tua sering kali lebih konsisten dalam ibadah. Bukan karena fisik mereka lebih kuat, justru karena kesadaran mereka lebih dalam. Mereka melihat satu per satu teman sebayanya dipanggil pulang. Nama-nama dicoret dari daftar kontak, kabar duka datang bergantian. Dari situ tumbuh keyakinan bahwa giliran mereka tidak jauh. Kesadaran akan kematian membuat dunia kehilangan pesonanya. Mobil mewah, rumah megah, perjalanan jauh, semua terasa kecil dibanding persiapan menuju perjumpaan dengan Allah. Keyakinan melahirkan prioritas, dan prioritas melahirkan istiqamah.
Akidah yang hidup akan memandu seseorang bahkan saat tidak ada yang melihat. Di masa Rasulullah ﷺ, pernah terjadi kisah seorang lelaki yang membeli sebidang tanah lalu menemukan bongkahan emas di dalamnya. Ia tidak menganggapnya rezeki nomplok. Ia justru mengembalikannya kepada penjual tanah karena merasa tidak pernah berakad membeli emas. Penjual pun menolak dengan alasan tanah itu telah berpindah kepemilikan. Mereka berselisih bukan untuk memiliki, tetapi untuk menolak. Hingga hakim memutuskan emas itu menjadi milik pasangan yang dinikahkan dari keluarga mereka. Yang menahan keduanya bukan hukum tertulis, melainkan keyakinan bahwa Allah melihat dan akan meminta pertanggungjawaban. Inilah akidah yang melahirkan kejujuran dan menjaga istiqamah.
Namun manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendiri. Sehebat apa pun akidah seseorang, ia tetap membutuhkan ukhuwah. Lingkungan, jemaah, dan komunitas menjadi penyangga penting dalam menjaga konsistensi. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa serigala hanya memangsa kambing yang menyendiri. Kesendirian sering membuka pintu maksiat, sementara kebersamaan menumbuhkan ketaatan. Banyak keburukan mencari ruang sepi, tetapi kebaikan tumbuh subur ketika dilakukan bersama. Karena itu, perintah-perintah Allah hampir selalu ditujukan secara kolektif, kalian, bukan kamu.
Rasulullah ﷺ bahkan mengibaratkan umat seperti penumpang kapal. Jika sebagian ingin melubangi kapal demi kemudahan, sementara yang lain diam, maka kapal itu akan tenggelam bersama. Istiqamah bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab kolektif. Amar ma’ruf nahi munkar, saling menasihati, dan menjaga lingkungan menjadi bagian dari proses bertahan di jalan lurus. Lingkungan yang rusak akan menggerogoti iman, sementara lingkungan yang sehat akan menguatkan langkah.
Pada akhirnya, nasihat Rasulullah ﷺ itu kembali menggema sebagai ringkasan hidup: قُلْ أَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. Bukan sekadar mengaku beriman, tetapi menjaga iman itu agar terus hidup dalam amal, pilihan, dan sikap. Dengan akidah yang kuat, ukhuwah yang menopang, dan ketaatan yang dijaga, istiqamah bukan lagi cita-cita yang jauh, melainkan jalan panjang yang terus ditempuh, pelan, berat, tetapi mengantarkan pulang dengan selamat.
0 Komentar